Senin, 06 April 2020

DAMPAK POSITIF VIRUS CORONA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA



Dengan mewabahnya virus corona membuat pemerintah sebagai pengelola keuangan negara tidak tinggal diam ketika perekonomian nasional terguncang. Penyebaran virus covid-19 berdampak paling besar pada bisnis yang memerluan perpindahan arus barang secara fisik, baik sebagai pembelian bahan baku ataupun penjualan hasil produk. Sebagai contoh industri pengolahan dan manufaktur adalah yang terdampak besar akibat wabah ini. Begitu juga bisnis yang memerlukan perjalanan atau transportasi maanusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Usaha penerbangan, pariwisata, hotel, restoran, jasa pengiriman dan transportasi adalah jenis usaha yang juga terdampak besar. Stimulus diberikan agar usaha tidak terlalu terguncang, pada akhir Februari 2020 pemerintah menggunakan APBN sebagai stimulus guna menggerakkan perekonomian Indonesia.
 Stimulus tahap pertama berupa pembebasan pajak hotel dan restoran di 10 daerah wisata yang terdiri dari 33 kabupaten dan kota. Juga diberikan diskon tiket penerbangan sebesar 30 oersen dari 25 persen seat penerbangan menuju 10 daerah wisata yang terdampak penurunan wisatawan. Selain itu, stimulus fisikan tahap pertama lainnya yang diberikan pemerintah adalah pemberi kartu smbako untuk melindungi daya beli masyarakat miskin, percepatan implementasi kartu Pra-Kerja, subsidi untuk perumahan rakyat melalui Skema Subsidi Selesih Bunga (SSB).  Stimulus fisikal saat itu adalah menyesuaikan dengan kondisi dimana sat itu belum ditemukannya virus Corona oleh pemerintah Indonesia, dengan telah diumumkannya pasien wabah Virus Corona di Indonesia yang jumlahnya terus bertambah, maka strategi stimulus fisikal juga perlu dilakukan penyesuaian. Pemerintah sadar bahwa akan banyak perusahaan yang menghentikan sementara usahanya terutama dari sektor industri.
Oleh karena itu, pada tanggal 13 Maret 2020 telah diumumkan secara resmi stimulus fisikal yang kedua. Yang bisa disebut sebagai kebijakan counter cyclical atau kontra siklus, pemerintah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan fisikal, yaitu dengan melebarkan defisit APBN 2020 menjadi sekitar 2,5 persen PDB dari yang direncanakan sebesar 1,76 persen PDB. Hal ini dilakukan untuk memberikan ruang \gerak ekonomi yang lebih leluasa di tengah tekanan ekonomi nasional. Selain itu, dari yang sudah dilakukan pada sisi belanja di stimulus tahap pertama, pemerintah juga memberikan stimulus dari sisi penerimaan negara. Insentif perpajakan diberikan dalam berbagai bentuk.

1.      Adanya relaksai Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21), Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% atas penghasilan dari pekerja dengan besaran sampai dengan Rp 200 juta pada sektor industri pengolahan dalam kurun waktu 6 bulan dari bulan April hingga September 2020.

2.      Relaksasi Pajak Penghasilan pasal 22 Impor (PPh Pasal 22 Impor), yang diberikan melalui skema pembebasa PPh Pasal 22 Impor kepada 19 sektor tertentu, wajib pajak Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan wajib pajak Kemudahan Impor Tujuan Ekspor – Industri Kecil dan Menengah (KITE IKM).

3.      Relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh Pasal 25), melalui skema pengurangan PPh Pasal 25 sebesar 30 persen kepada 19 sektor tertentu, Wajib Pajak KITE, dan Wajib Pajak KITE-IKM selama 6 bulan sejak April sampai september 2020. 

4.      Relaksasi restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dipercepat (pengembalian pendahuluan) bagi 19 sektor tertentu, WP KITE, dan WP KITE-IKM. Restitusi PPN dipercepat, terhitung mulai bulan April hingga September 2020.

Stimulus fisikal yang kedua ini tentunya diharapkan dapat menjaga usaha dari pelemahan ekonomi dari sektor-sektor paling terdampak. Selain stimulus fisikal, pemerintah juga akan melakukan relaksasi dari prosedur ekspor dan impor serta memberikan pelayanan maksimal dan kemudahan pada importir yang memiliki reputasi baik.

Sumber:


Senin, 30 Maret 2020

VIRUS COVID-19 PANDEMI PEMBAWA PERUBAHAN





Covid-19 atau SARS-CoV-2 menjadi penyebab perubahan yang terjadi pada seluruh dunia, karena penyebarannya sangat cepat, sehingga menginfeksi banyak orang disetiap negara, para ilmuwah di seluruh dunia meneliti untuk membuktikan asal usul dari virus ini, SARS-CoV-2 yang diklaim berasal dari rekayasa genetika. Namun, Studi yang dilakukan membuktikan bawah virus ini berasl dari epidemi alami. Kristian Andersen, PhD seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, melakukan penelitian gabungan dengan beberapa peniliti dari berbagai lembaga. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi penyebab meluasnya virus corona. Kemungkinan pertama, yaitu virus berevolusi di keadaan patogen saat ini melalui seleksi alam di inang non-manusia, kemudian melompat ke manusia. Pada kemungkinan ini menunjukkan bagaiamana wabah ini muncul, dengan perantara penularan manusia dari musang (SARS) dan unta (MERS).
Para Peneliti mengusulkan kelelawar sebagai penyebab yang paling mungkin untuk SARS-CoV-2, karena virus ini sangat mirip dengan virus corona pada kelelawar. Akan tetapi, tidak ada satu kasus penularan langsung dari kelelawar ke manusia yang tercatat, hal ini menunjukkan kemungkinan perantara yang terlibat antara kelelawar dan manusia. Dalam kemungkinan ini, kedua spike protein SARS-CoV-2 bagian RBD yang mengikat sel dan situs pembelahan yang membuka celah untuk virus, akan berevolusi ke kondisi saat ini sebelum memasuki manusia. Pada kasus ini, epidemi saat ini mungkin akan muncul dengan cepat segera setelah manusia terinfeksi. Karena, virus telah bermutasi yang membuatnya menjadi pantogen dan dapat menyebar di antara manusia.
Kemunginan lain, versi virus non-patogenik melompat dari inang hewan manusia, kemudian berevolusi menjadi kondisi patogen dalam populasi manusia. Sebagai contoh, beberapa virus corona dari pangolin, hewa armadilo yang ditemukan di Asia dan Afrika memiliki struktur RBD yang hampir sama dengan SARS-CoV-2. Virus corona dari trenggiling bisa ditularkan ke manusia, baik secara langsung atau melalui inang perantara seperti musang. Karakteristik spike protein lain yang berbeda dari virus SARS-Cov-2, situs pembelahan dapat berevolusi dalam inang manusia. Kemungkinan evolusi itu terjadi melalui proses terbatas yang tidak terdeteksi dalam manusia sebelum awal epidemi. Para peneliti menemukan bahwa pembelahan virus SARS-CoV-2 mirip dengan pembelahan strain flu burung yang telah terbukti menularkan dengan mudah diantara orang-orang. Virus SARS-CoV-2 dapat bermutasi seperti pembelahan yang ganas di dalam sel manusia dan segera menjadi epidemi saat ini, sebab, virus corona mungkin akan jauh lebih mampu menyebar diantara manusia.



Pandemi virus corona yang terjadi menyebabkan berbagai negara menerapkan kebijakan untuk pencegahan penyebaran virus semakin meluas, tak terkecuali pemerintah indonesia. Karena semakin banyaknya jumlah orang yang terinfeksi virus corona, membuat pemerintah menerapkan berbagai himbauan untuk menjaga jarak antara masyarakat atau biasa disebut dengan social distancing. Mulai dari imbauan bekerja di rumah bagi pekerja dan karyawan yang memungkinkan, meliburkan sekolah hingga membatasi kegiatan yang melibatkan banyak orang. Kondisi ini tentu berdampak terhadap perekonomian di Indonesia, perekonomian secara global otomatis juga terganggu. Berbagai lembaga internasional telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. International Monetary Fund (IMF) menyebut, penyebaran virus corona yang terbilang cepat akan menghapus harapan pertumbuhan ekonomi tahun 2020. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, akibat virus ini, sepertiga dari 189 negara anggota IMF akan terkena imbasnya. Georgieva mengatakan IMF saat ini memprediksi pertumbuhan ekonomi global 2020 akan berada dibawah level 2,9% dan perkiraan revisi akan dikeluarkan dalam beberapa minggu mendatang. Perubahan ini menggambarkan lebih dari penurunan 0,4 poin persentase dari tingkat pertumbuhan 3,3% 2020 yang IMF perkirakan pada januari berdasarkan meredanya ketegangan perdagangan AS-China.
Melambatnya ekonomi global tentu akan berdampak pada ekonomi di dalam negeri. Di Indonesia, menteri keungan ibu Sri Mulyani bahkan telah menyusun beberapa skenario pertumbuhan ekonomi tahun ini di tengah ancaman virus corona. Menurut ibu Sri Mulyani, efek wabah virus corona terhadap ekonomi diperkirakan masih dapat diatasi sehingga ekonomi tumbuh diatas 4% pada tahun ini. Namun dengan skenario yang lebih berat, ekonomi Indonesia diproyeksi hanya akan tumbuh 2,5% dan bahkan 0%. Sementara itu, Bank Indonesia juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dari semula 5%-5,4% menjadi hanya 4,2%-4,6%.
Demi memperkecil efek yang ditimbulkan dari virus corona bagi perekonomian, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus yang ditujukan bagi masyarakat dan sektor-sektor yang terdampak. Pemerintah masih akan terus mengeksplorasi berbagai langkah yang bisa dilakukan untuk membendung efek COVID-19 terhadap perekonomian

Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4936477/ngerinya-dampak-corona-ke-ekonomi-ri
https://www.suara.com/tekno/2020/03/24/102308/terungkap-inilah-asal-usul-nama-virus-corona
https://bisnis.tempo.co/read/1324240/efek-corona-inaca-ada-maskapai-yang-mulai-merumahkan-pegawai/full&view=ok
https://www.suara.com/tekno/2020/03/27/074500/dua-yang-menjadi-satu-asal-muasal-virus-corona-pemicu-covid-19
https://fokus.kontan.co.id/news/ekonomi-porak-poranda-akibat-corona-bagaimana-langkah-penyelamatan-oleh-pemerintah-1?page=all
https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/18/193100223/bukan-rekayasa-genetika-studi-menguak-asal-usul-virus-c

 

DAMPAK POSITIF VIRUS CORONA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

Dengan mewabahnya virus corona membuat pemerintah sebagai pengelola keuangan negara tidak tinggal diam ketika perekonomian nasional t...