SULAWESI SELATAN (TORAJA)
NAMA:INDAH
KELAS:1KA09
NPM:13116483
SUKU
TORAJA
Suku
Toraja adalah suku yang
menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya
diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di
Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas
suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan
kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah
Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu
Dharma.
Asal
usul kata Toraja sampai
saat ini masih menjadi perdebatan termasuk berbagi versi dan referensi masing-masing.
Ada beberapa versi asal kata Toraja diantaranya sebagai berikut; dari istilah
orang Bugis yang menyebut, to riaja, yang berarti "orang yang
berdiam di negeri atas". Namun beberapa sumber lain menyatakan bahwa
orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang
berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya (dalam
keseharian kita masih sering mendengar orang-orang tua di Toraja menyebut
Toraja dengan kata tersebut), berasal dari 2 kata yakni To = Tau
(orang), Raya = dari kata Maraya (besar | bisa diartikan orang-orang
besar atau bangsawan). Seiring waktu dan beberapa perubahan ejaan, kata Toraja
masih mempertahankan ejaan lama dalam penulisannya. Adapun kata Tana dapat
diartikan sebagai negeri. Hingga dikemudian hari wilayah pemukiman mayoritas
suku Toraja lebih dikenal dengan sebutan Tana Toraja, yang akhirnya menjadi
nama kabupaten dalam wilayah admistrasi Provinsi Sulawesi Selatan. Pemerintah
kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909
Identitas
etnis
sebelum
abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja,
yang tinggal di daerah dataran tinggi, Meskipun ritual-ritual menciptakan
hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki
sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi.
“Toraja” (dari bahasa pesisir to, yang berarti orang, dan Riaja, dataran
tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk
penduduk dataran tinggi. Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih banyak memiliki
hubungan perdagangan dengan orang luar—seperti suku Bugis, suku Makassar, dan
suku Mandar yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi—daripada
dengan sesama suku di dataran tinggi. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki
empat kelompok etnis utama—suku Bugis (meliputi pembuat kapal dan pelaut), suku
Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang, pembuat kapal dan
pelaut), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).
Letak Toraja(hijau) di antara Makassar (kuning)
dan Bugis (merah)
Tongkonan berasal dari kata “tongkon” yang berarti duduk.
Rumah tongkonan sendiri difungsikan sebagai pusat pemerintahan (to ma’
parenta), kekuasaan, dan strata sosial pada elemen masyarakat toraja.
Rumah tongkonan yang berdiri berjejer akan mengarah ke utara
dengan ujung atap yang runcing ke atas melambangkan leluhur mereka yang berasal
dari utara. Sehingga konon katanya ketika nanti meninggal mereka akan berkumpul
bersama arwah leluhurnya yang berada di utara
Upacara pemakaman
Upacara pemakaman Rambu Solo adalah
rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara
siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur
atau tongkonan.
Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip
semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai
menuju nirwana.
Bagi kalangan bangsawan yang meninggal maka mereka memotong kerbau yang
jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu di
antaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya. Upacara pemotongan
ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher
kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan. Kerbau pun
langsung terkapar beberapa saat kemudian.
Upacara pemakaman Rambu Solo
RambuSolo dalah upacara adat kematian
masyarakat Toraja yang bertujuan untukmenghormati dan menghantarkan
arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh,yaitu kembali kepada
keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempatperistirahatan.
Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematiankarena
orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah
seluruhprosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang
meninggal tersebuthanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah,
sehingga ia tetap diperlakukanseperti halnya orang hidup, yaitu
dibaringkan di tempat tidur dan diberihidangan makanan dan minuman
bahkan selalu diajak berbicara.
Puncak
dari upacara Rambu solo ini dilaksanakandisebuah lapangan khusus. Dalam
upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual,seperti proses
pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas danperak pada
peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan,
danproses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Selain
itu, dalam upacara adat ini terdapatberbagai atraksi budaya yang
dipertontonkan, diantaranya adu kerbau,kerbau-kerbau yang akan
dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih,dan adu kaki. Ada
juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.
Kerbau
yang disembelih dengan cara menebas leherkerbau hanya dengan sekali
tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat TanaToraja. Kerbau yang akan
disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapikerbau bule Tedong Bonga yang harganya berkisar antara 10 50 jutaatau lebih per ekornya.
TARIAN TORAJA
suku Toraja
melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan.
Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus
menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang
menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan
menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut
disebut Ma'badong).
Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting
dalam upacara pemakaman. Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma'randing
ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang
pria melakukan tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm
tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma'randing mengawali
prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara
•Tarian Ma’badong
Tarian ini merupakan tarian kedukaan. Penari membuat lingkaran dengan
pakaian hitam atau berpakaian bebas. Berbagai jenis langkah dan lagu selalu
silih berganti selama penari pa’badong belum lelah. Tarian badong berlangsung
semalam suntuk, biasa dimulai dari jam sembilan malam sampai jam tiga menjelang
pagi. Orang bebas masuk turut ma’badong baik laki-laki maupun perempuan.
Orang-orang yang tidak memakai seni badong akan segera bosan dengan irama yang
kedengaran itu-itu saja, tapi orang Toraja selalu tertarik mengikuti kata-kata
badong karena mengingatkan manusia yang selalu silih berganti, riwayat hidup
dari orang yang meninggal sejak manusia berada dalam kandungan ibu sampai akhir
hidupnya. Tidak semua upacara kematian mengadakan Ma’badong, hanya upacara
pemakaman yang lamanya tiga malam ke atas.
Pada pemakaman besar (biasanya orang dengan kasta tinggi), sebuah tari
perang yang bernama Ma'randing dipentaskan. Para penari menggunakan pakaian
perang tradisional dan senjata. Tari ini secara mendasar adalah sebuah tari
partriotik atau tari perang. Kata ma'randing berasal dari randing yang berarti
"mulia ketika melewatkan". Tari ini menunjukkan kemampuan dalam
memakai senjata militer dan menunjukkan keteguhan hati dan kekuatan seseorang
yang meninggal selama hidupnya. Ia ditarikan oleh beberapa orang yang setiap
orangnya membawa perisai besar, pedang dan sejumlah ornamen. Setiap objek
menyimbolkan beberapa makna. Perisai yang dibuat dari kulit kerbau (bulalang)
menyimbolkan kekayaan, karena hanya orang kaya yang memiliki kerbau sendiri.
Pedang (doke, la'bo' bulange, la'bo' pinai, la'bo' todolo)
menunjukkan kesiapa untuk perang, yang menyimbolkan keberanian.
Musik toraja
Semua lagu-lagu hiburan duka dapat diikuti dengan suling toraja yang lain
dari suling yang dipergunakan anak-anak sekolah. Passuling ini dibawakan oleh
laki-laki untuk menyambut rombongan tamu pada upacara kedukaan orang mati atau
dapat pula dibunyikan untuk menghibur diri pada waktu malam
Musik yang menarik minat anak-anak gembala menjelang padi di sawah
menguning. Alat musiknya dibuat dari batang padi dan daun pohon enau.
Pa’barrung ini merupakan musik khusus untuk pesta rumah adat.
Alatnya ialah suling bambu da bambu besar. Biasanya murid-murid sekolah
secara massal membawakan pada pesta perayaan hari nasional atau upacara adat
lainnya.
Alatnya kecil dengan benang halus diletakkan pada bibir dan tali
disentak-sentak dan bunyi hiburan yang halus dapat didengar.
Bambu yang kecil dan halus dengan bunyi hiburan yang lumayan jadi hiburan.
sumber
biw=1366&bih=665#imgrc=JNZauXRs1MvfyM%3A